TAK TERHITUNG
hampir pagi,
kau menjelma degup sunyi yang bergemeretak
mengisi gelap,
dalam kotak kaca yang berpendar
aku bertanya tanya,
apakah yang membuatmu tersenyum di dalam sana?
cahaya berhamburan dari telinga, tangan, terutama dari kedua matamu
menerabas bulu matamu,
meninggalkan payung kecil melingkari jendela hatimu
mungkinkah kau lelaki untukku?
jika begitu, maka
keluarlah dari dalam sana,
masuklah ke dalam mimpiku...
oh, kiranya betapa wangi rindu ini
menyelusup di ubun-ubun dan buku jariku
membimbingku pada kesempurnaan
kubilang jemari, tak cukup untuk menghitung :
berapa kali kau bermunculan pagi ini...
langitpun membahasakan rinduku:
yang mengabu,
lalu luruh tak tertahankan
mengasihi bumi,
memberinya jejak kehidupan